![]() |
| Hak milik Hamba ALLAH |
Tangannya mengenggam Al-Quran
Entah kenapa kakinya berani untuk melangkah sendirian ke taman ini
Nyata ketakutan untuk berseorangan tak mampu mengalahkan kesedihannya.
Kesedihan yang membelenggu jiwa.
Kenapa hidup mesti ada perbandingan
Ya,.dia bencikan perbandingan. Sejak kecil, dia sering dibandingkan dengan orang lain.
Mengapa harus manusia hidup atas dasar membandingkan orang?Kenapa?
Pedihnya hati bila dibandingkan dengan sahabat baik sendiri.
Hancurnya jiwa bila orang sekeliling sibuk bertanyakan hal dia bila mengetahui kejayaan sahabatnya.
Kenapa aku harus sentiasa berada di bawah dia?
Kenapa?
Bibirnya perlahan beristighfar. Tak sepatutnya dia mempersoalkan ketentuan Allah. Tapi...
Hatinya sakit. Jiwanya luluh.
Tangannya meraup muka. Sungguh. Dia rasakan semakin tak kuat. Tak kuat untuk menghadapinya.
"Ya Allah, aku tak cukup kuat untuk berhadapan dengan semua ini."
Tangannya menyentuh Al-Quran. Aneh. Ada ketenangan yang menyerbu jiwa bila terlihat kalam-kalam Allah yang tersusun.
Dibelek Al-Quran yang sudah lama tak disentuhnya.
"Kenapa dalam banyak-banyak benda,tangan aku mencapai Al- Quran?".
Dia bingung. Dia sendiri tahu selama ini hanya dengan lagu-lagu yang bermain dari MP4 yang selalu dia jadikan untuk beroleh ketenangan. Tak pernah mencari Al-Quran bila dia kusut. Selalunya sumbat telinga earphone,pasang lagu kuat-kuat...then tidur. Takde benda lain. Memang itulah official method untuk yana tenangkan fikiran tapi sekarang....
Jiwanya kusut. Tangannya masih tak henti membelek Al-Quran yang dibawa dari rumah sewanya hingga ke mari. Matanya memerhati ayat-ayat Al-Quran yang tersusun indah.
Tangannya terhenti bila terpandang pada satu ayat.
Matanya memandang ke langit . Bintang-bintang yang berkelipan di langit sungguh mengagumkannya. Sudah begitu lama dia tidak begitu menikmati indahnya ciptaan Allah. Selama ini, dia hanya berkurung di dalam bilik. Menghabiskan masa sendirian. Tak kisah orang nak kata apa.
"Subhanallah, indahnya ciptaan engkau Ya Allah.",bibirnya tanpa sedar memuji kebesaranNYA.
"Nurliyana Fathiyyah,kau memang manusia yang tak pernah bersyukur. Selama ini kau hanya melihat nikmat orang lain yang lebih daripada kau. Yang keluar dari mulut hanyalah keluhan." hatinya berbicara.
Aneh. Kalau diikutkan statusnya sebagai bekas pelajar sekolah agama, sepatutnya dia tahu macam mana caranya untuk menenangkan fikiran dengan cara Islam.
"Kadang-kadang,budak stok sekolah agama pun terkandas jugak". Nafas berat dihembus.
Sabar adalah kunci kekuatan. Kenapa dia tak pernah terfikir sebelum ini.
"Allah yang pegang hati kita. DIA yang membolak-balikkan hati kita. DIA Pemberi Hidayah. DIA yang melembutkan hati kita untuk menerima hidayah. Hanya Allah,dam"
Kata-kata sahabatnya, Sakinah tiba-tiba terngiang-ngiang. Bibirnya tanpa sedar mengukir senyum.
"Betul kata kau, Kinah. Aku adalah hamba Allah yang penuh dengan nikmat tapi sombong. Tak pernah mengucap syukur."
Allah Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:153)
Perlahan-lahan bibirnya mengucup Al-Quran. Terima kasih Ya Allah atas ketenangan ini.
.jpg)